Bank Soal TWKK CPNS 2026: Bahasa Indonesia
Halaman 18. Silakan pilih topik materi untuk berlatih.
Ganti Topik Materi
NO. 171
Link Soal
Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Nasional (PPBSN) melakukan studi komparatif tentang dinamika penggunaan Bahasa Indonesia lintas generasi dan platform komunikasi digital. Temuan kunci menunjukkan bahwa generasi sebelum tahun 1980 cenderung menginternalisasi Bahasa Indonesia dengan kaidah tata bahasa yang ketat, memegang teguh pedoman Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), dan mempraktikkan adaptasi selektif terhadap kosakata asing atau daerah, khususnya dalam ranah formal. Sebaliknya, observasi pada generasi setelah tahun 2000 mengungkapkan kecenderungan masif untuk mengintegrasikan slang, akronim, dan adopsi langsung istilah asing (e.g., 'literally,' 'spill the tea,' 'vibes') tanpa proses pembakuan yang jelas dalam komunikasi sehari-hari, bahkan di beberapa konteks semi-formal digital. Fenomena ini, menurut laporan PPBSN, berpotensi menciptakan fragmentasi linguistik dan mengaburkan batas antara Bahasa Indonesia baku dan non-baku di mata publik.
Berdasarkan analisis data studi PPBSN tersebut, tantangan strategis paling krusial yang dihadapi Bahasa Indonesia dalam mempertahankan perannya sebagai perekat identitas nasional di tengah arus perubahan linguistik ini berkaitan erat dengan aspek...
A
Fleksibilitas Bahasa Indonesia untuk menyerap dan mengakomodasi keberagaman dialek regional.
B
Penjagaan konsistensi kaidah bahasa baku dan otoritasnya sebagai standar komunikasi nasional.
C
Optimalisasi promosi Bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan internasional dan diplomasi.
D
Pengembangan kurikulum pendidikan bahasa yang lebih responsif terhadap tren penggunaan bahasa gaul.
E
Peningkatan kapasitas infrastruktur digital untuk mendukung literasi berbahasa Indonesia.
NO. 172
Link Soal
Di Kota Harmoni, seorang penulis muda bernama Galih seringkali kesulitan menuangkan idenya dalam tulisan yang mudah dipahami. Karyanya cenderung menggunakan diksi yang rumit dan struktur kalimat yang berbelit-belit, warisan dari gaya penulisan sastra lama yang ia pelajari. Pak Budi, seorang redaktur senior yang bijaksana, melihat potensi Galih namun menyarankan agar ia menyederhanakan bahasanya, menggunakan kalimat efektif, dan membuang frasa-frasa usang. 'Bahasa itu alat komunikasi, Galih,' ujar Pak Budi. 'Lihatlah bagaimana Bahasa Indonesia kita berkembang. Dari bahasa yang terkesan kedaerahan dan kuno, ia berevolusi menjadi bahasa yang modern, lugas, dan mampu menampung berbagai pemikiran kompleks, berkat semangat para tokoh yang visioner. Kita harus memastikan bahasa ini terus relevan dan efisien untuk generasi mendatang.' Semangat modernisasi dan efisiensi bahasa yang ditekankan Pak Budi dalam nasihatnya kepada Galih paling relevan dengan pemikiran dan perjuangan tokoh nasional dalam bidang Bahasa Indonesia, yaitu...
A
Sutan Takdir Alisjahbana
B
Chairil Anwar
C
Pramoedya Ananta Toer
D
Sanusi Pane
E
Amir Hamzah
NO. 173
Link Soal
Penggunaan tanda baca yang kurang tepat ditemukan pada kalimat...
A
Di rak bukunya terdapat novel, majalah, dan koran.
B
Dika bukan ingin membeli sepatu melainkan ingin membeli tas baru.
C
Alat tulis yang ia bawa: pulpen, penggaris, dan buku.
D
Ia akan berlibur jika mendapatkan izin dari kantor.
E
Jika hujan turun, ia tidak akan berangkat bekerja.
NO. 174
Link Soal
Di antara kata-kata serapan berikut, manakah yang penulisannya tidak baku atau salah?
A
Genetik
B
Varitas
C
Silinder
D
Hemoglobin
E
Plaza
NO. 175
Link Soal
Sub-materi: Interpretasi Teks Resmi dan Implikasi Etis.
Dalam sebuah edaran internal terbaru yang dikeluarkan oleh unit pengadaan barang dan jasa suatu kementerian, terdapat kalimat berikut: 'Untuk menjamin kelancaran dan efisiensi proyek infrastruktur yang akan datang, panitia seleksi *didorong untuk mempertimbangkan secara cermat* rekam jejak penyedia barang/jasa yang *telah menunjukkan komitmen serupa* dalam mendukung program pemerintah sebelumnya, khususnya yang berdomisili di ibu kota provinsi.'
Analisis penggunaan frasa yang dicetak miring dalam kalimat tersebut dari sudut pandang pencegahan benturan kepentingan dan integritas birokrasi. Manakah implikasi yang paling relevan?
A
Frasa 'didorong untuk mempertimbangkan secara cermat' dan 'telah menunjukkan komitmen serupa' secara inheren menciptakan ruang interpretasi yang subjektif, berpotensi memfasilitasi preferensi tidak objektif terhadap vendor tertentu yang memiliki kedekatan historis atau personal dengan panitia, yang bertentangan dengan prinsip persaingan sehat dan transparansi.
B
Penyebutan 'berdomisili di ibu kota provinsi' merupakan bentuk diskriminasi geografis yang secara langsung menghambat partisipasi penyedia dari daerah lain, meskipun tidak secara langsung terkait dengan benturan kepentingan pribadi panitia.
C
Penggunaan bahasa yang tidak lugas dalam edaran tersebut menunjukkan kurangnya profesionalisme dalam penyusunan kebijakan internal, namun belum tentu mengindikasikan adanya benturan kepentingan.
D
Frasa tersebut sejatinya bertujuan untuk memastikan kualitas pekerjaan dengan memprioritaskan penyedia yang memiliki pengalaman terbukti, yang merupakan praktik umum dalam pengadaan untuk mitigasi risiko proyek.
E
Kalimat tersebut secara implisit mendorong inovasi dan kolaborasi baru antarinstansi pemerintah dengan penyedia jasa yang berdedikasi tinggi.
NO. 176
Link Soal
Sejarah pembentukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara tidak lepas dari perjuangan panjang para tokoh bangsa untuk menyatukan beragam suku dan budaya di Nusantara. Bahasa Melayu, yang kemudian diangkat menjadi Bahasa Indonesia, memiliki keunggulan karena sifatnya yang akomodatif, sederhana, dan telah lama menjadi lingua franca di kawasan Asia Tenggara. Pemilihan ini menunjukkan visi kebangsaan yang jauh ke depan, mengesampingkan egoisme primordial demi kepentingan nasional yang lebih besar. Namun, di era kontemporer, ancaman terhadap Bahasa Indonesia justru datang dari internal, yakni kurangnya kebanggaan dan komitmen sebagian warga negara, termasuk ASN, untuk menggunakan Bahasa Indonesia secara optimal, bahkan cenderung menganggap remeh strukturnya.
Apa latar belakang filosofis terkuat di balik pemilihan Bahasa Melayu sebagai cikal bakal Bahasa Indonesia, yang relevan untuk memperkuat komitmen ASN terhadap bahasanya di tengah tantangan ini?
A
Sifat Bahasa Melayu yang demokratis dan non-feodal, memungkinkan partisipasi setara dari seluruh elemen masyarakat tanpa diskriminasi berdasarkan kasta atau asal-usul, sejalan dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.
B
Ketersediaan kamus dan tata bahasa Bahasa Melayu yang sudah mapan dibandingkan bahasa daerah lain pada masa itu, sehingga memudahkan proses kodifikasi dan standarisasi sebagai bahasa nasional.
C
Kekayaan kosakata dan fleksibilitas struktur Bahasa Melayu yang memungkinkan adaptasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, menjadikannya potensial sebagai bahasa ilmu.
D
Posisi strategis Bahasa Melayu sebagai bahasa perdagangan dan komunikasi antarbudaya selama berabad-abad, menjadikannya pilihan pragmatis untuk mempersatukan wilayah kepulauan yang luas.
E
Kesederhanaan fonologi dan morfologi Bahasa Melayu yang mudah dipelajari oleh penutur bahasa lain, sehingga sangat efektif untuk menyebarkan semangat nasionalisme dan pendidikan massal ke seluruh pelosok negeri.
NO. 177
Link Soal
Bahasa Indonesia bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga medium untuk menyampaikan nilai-nilai luhur Pancasila. Dalam diskursus publik, seringkali terjadi pergeseran makna atau pendangkalan nilai-nilai Pancasila karena penggunaan bahasa yang tidak tepat, tidak santun, atau provokatif. Misalnya, istilah 'musyawarah mufakat' yang seharusnya mencerminkan semangat kekeluargaan dan kesepakatan bersama, seringkali direduksi menjadi 'voting' atau 'adu suara' dalam debat yang panas di media sosial. ASN, sebagai perekat bangsa dan pelayan publik, memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kemuliaan Bahasa Indonesia sebagai jembatan nilai-nilai Pancasila.
Dalam situasi ini, tindakan apa yang paling tepat untuk dilakukan oleh seorang ASN yang berkomitmen pada integritas dan nilai-nilai Pancasila dalam penggunaan Bahasa Indonesia?
A
Menghindari perdebatan yang melibatkan isu-isu sensitif di ruang publik digital untuk mencegah diri terjebak dalam penggunaan bahasa yang provokatif dan tidak sesuai nilai Pancasila.
B
Mengedukasi masyarakat secara pasif melalui unggahan informatif di akun media sosial pribadi tentang pentingnya Bahasa Indonesia yang santun dan nilai-nilai Pancasila, tanpa terlibat langsung dalam interaksi.
C
Menjadi teladan dalam penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, santun, serta mengacu pada nilai-nilai Pancasila dalam setiap komunikasi resmi maupun personal, baik daring maupun luring, dan secara aktif mengoreksi jika menemukan penyimpangan.
D
Mendorong pembentukan regulasi yang mengatur penggunaan Bahasa Indonesia di ruang publik digital, termasuk sanksi bagi pihak-pihak yang menyalahgunakan bahasa untuk menyebarkan kebencian atau provokasi yang bertentangan dengan Pancasila.
E
Mengorganisir forum-forum diskusi lintas sektor untuk membahas interpretasi yang benar terhadap nilai-nilai Pancasila dan padanan katanya dalam Bahasa Indonesia, serta menyosialisasikannya kepada publik luas.